Kritik untuk Ponorogo




Ponorogo adalah kabupaten yang paling kecil daerahnya dijawa timur ini dan kebanyakan dari penduduk daerah ini banyak pengangguran yang merajalela, apalagi yang tinggal didaerah pedesaan rata-rata dari mereka cuma menjadi buruh tani sedikit yang menjadi petani itu sendiri. Dan sedangkan penduduk yang ada di daerah perkotaannya (khususnya pemuda) rata-rata cuma mendapat penghasilan dari cara mereka mengamen seperti halnya yang dijalani oleh teman saya sendiri yang asli dari kabupaten reog sendiri, dan pada malam harinya mereka cuma nongkrong di angkringan. dan bahkan ada yang menyebut kabupaten ponorogo ini sebagai kota angkringan.

Waktu pertama kali menginjak kota ponorogo saya berfikir bahwa kota ini penuh dengan reog disetiap daerahnya. Tetapi setelah beberapa hari dikota yang kesannya sangat terkenal diseluruh negeri indonesia ini bahkan taraf internasional, saya merasakan ada yang begitu melekat di kota ini yaitu budaya ngangkring yang ada di setiap sudut lokasi. Padahal dikota saya sendiri (ngawi) tidak ada istilah ngangkring atau nongkrong di warung sampai begitu lama.
Tapi disisi lain dugeman yang dilakukan para pemuda yang ada didaerah perkotaan menjadi sarana bagi orang yang bisa melihat peluang usaha untuk membuat angkringan atau biasa dikategorikan tempat pangakalan ngopi.
Pada konteks Ponorogo saya begitu “nggumun” ketika misalnya, even-even hiburan digelar dikota ini selalu dibanjiri oleh penonton. Entah apa penyebabnya , karena saya tidak akan membahas hal itu.
Yang ingin saya ketahui adalah……
Kira-kira, generasi muda yang suka seni, pernahkan kalian mengetahui atau setidaknya bertanya, beberapa pendapat dari hiburan-hiburan seperti ini (pagelaran musik, gebyar suroan, lebaran, dll), dari pada generasi penerus hanya ngangkring dan dugeman.

Dilihat dari antusias masyarakat akan hal ini, yang selalu membanjiri tontonan maka tentu semua akan berasumsi, bahwa daerah juga meraup keuntungan dari hal ini pertanyaan selanjutnya adalah kemana larinya dana-dana itu jika kita hingga hari ini masih banyak melihat masayarakat miskin di Ponorogo, pengangguran juga tinggi, sekolah juga mahal, dll. Intinya masih banyak masalah yang terjadi masalah di Ponorogo ini. Ironisnya kita sebagai generasi penerus hanya diam saja dan terlena dengan hobi dan kesenangan kita masing-masing.
Ponorogo juga masih bermasalah dibidang olahraga, contohnya sistematika pembinaan atlit dikabupaten Reog ini yang sangat tidak efektif. Serta naungisasi para olahragawan yang tidak jelas, sehingga jarang sekali Ponorogo mempunyai atlit sekala Nasional atau mungkin Internasional, karena pembinaanya yang saya kira masih buruk. Contoh lain, dalam bidang sepakbola juga sangat menyedihkan menurut saya, dan mungkin memang sangat mengenaskan sekali.
Pertanyaanya, kira-kira berapa abad lagi ya Ponorogo punya tim sepakbola yang bisa masuk ke divisi utama Liga Indonesia apalagi Liga Champion, walaupun cuma Asia???
Kalau seandainya hanya terus seperti ini tanpa ada perubahan maka perlu berabad-abad untuk menunggu itu semua terwujud.
Intinya, ponorogo juga punya permasalahan dibidang olahraga. Jika saja generasi muda bersedia konsent untuk memikirkan solusi untuk masalah ini, maka tidak mustahil, jika olahraga di Ponorogo menjadi lebih baik dikemudian hari, karena yang dilakukan oleh generasi muda yang pecinta olahraga antusias akan permasalahan ini.
Seharusnya, bagi pemerintah setempat bisa melihat akan keadaan seperti ini karena rata-rata pengangguran yang ada di Ponorogo adalah generasi penerus yang harus diselamatkan, khususnya dalam bidang pendidikan, bidang olahraga dan mengenai peluang kerja. Mungkin salah satu caranya dengan mengadakan pembelajaran-pembelajaran, pelatihan-pelatihan yang efektif dan profesional serta bimbingan-bimbingan kerja bagi yang sudah cukup dalam menganyam dunia pendidikan, dan bagi mereka yang belum tuntas dalam mengenyam ilmu pendidikan diberi pendidikan gratis untuk melanjutkan studinya.

Sedikit mengenai kesenian reog yang merupakan wadah kesenian yang berbasiskan kebersamaan dan menjunjung serta mengutamakan nilai-nilai seni, dan yang merupakan ciri khas yang terkenal dari sebuah kabupaten Ponorogo ini.
Sejarah reog dahulu dan sampai sekarang masih melekat dan tetap menjadi perpaduan antara seni dan spiritual.

Mungkin sedikit pemikiran dari saya mengenai kritik untuk ponorogo yang menurut orang Ponorogo mereka cintai dan mungkin kritik ini sebagai wahana untuk perubahan dalam memperbaiki Ponorogo ke depan.
Seandainya saya tidak menjadi juara dalam perlombaan Nge-BLOG 2008 ini, setidaknya saya berharap kepada pemerintah setempat dapat menanggapi tentang hal ini.
sekian terimakasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kekeliruan dalam saran dan masukan saya.
Wassalam......
referensi menurut pribadi saya dan menurut pengamatan saya.



2 komentar:

  1. Saya sangan antusias dengan perkembangan ponorogo dan kota-kota disekitarnya.
    ini kira2 post tahun berapa ya?
    gini mas ya yang berasal dari Ngawi (Asal Mantan Saya, yang membuat rasa gimana terhadap asalnya).
    pertama:
    kalau anda bilang ponorogo adalah wilayah terkecil wilayahnya di jawa timur saya kurang setuju karena itu bukan kenyataannya :
    http://indonesiadata.co.id/main/index.php/jawa-timur
    kedua:
    ngangkring bukanlah budaya kami (orang ponorogo) dan kenapa di ponorogo pemudanya suka ngangkring itu karena jiwa sosial mereka tinggi dan sebagai sarana silaturahmi, memang menurut anda ini adalah hal yang aneh karena di Ngawi tidak ada hal yang demikian.karena kami menjunjung tinggi persaudaraan dan silaturahmi. bahkan even seperti pengajian, istigosah akbar, simaan alquran, kataman alquran, rutin diadaakan disetiap daerah diponorogo dan panitianya adalah para pemuda ponorogo.
    ketiga:
    masalah kesenian tradisional antusiasme pemuda ponorogo sangat tinggi, pertama kebanyakan sekolah sekolah di ponorogo memiliki club reog, setiap desa/kecamatan memiliki club reog yg diprakarsai oleh kawula muda ponorogo, bahkan setiap tahun ada lomba reog mini yang dimana pesertanya adalah pelajar ponorogo.
    dan kenapa tontonan diponorogo selalu rame karena warga ponorogo mencintai seni dan budaya daerahnya, grebek suro, wayang bulan purnama, reog mini, festival reog nasional , dan masih bnyak lagi. dan kreatifitas pelajar ponorogo diantara sering ada even yang diadakan oleh pelajar ponorogo dengan mengundang artis2 ibu kota,baksos,lomba2,dll dengan dana yg tidak sedikit namun acara tersebut dapat terlaksana (managemen yang baik), dan rutin setiap tahun.
    http://www.ponorogo.go.id/web2/ponorogo1/index.php?option=com_content&view=article&id=1344:bukaan-grebeg-suro2012&catid=213:tahun-2012
    keempat :
    masalah olahraga di ponorogo sepertinya anda ketinggalan informasi ya, http://www.konijatim.com/index.php?option=com_content&view=article&id=121&Itemid=83
    ithu adalah hasil porprov II jatim 2009, itu jawaban saya tentang olah raga di ponorogo dan anda bisa bandingkan sendiri dengan kota anda.
    atlit sekala nasional itu kan anda terlalu sotoy http://www.ponorogo.go.id/web2/ponorogo1/index.php?option=com_content&view=article&id=1341:reward-pon&catid=213:tahun-2012
    6 atlit menyumbang mendali bagi jatim PON 18 Riau.
    Dian Agus putra asli ponorogo mantan kiper timnas U-23 dan mantan kiper ke 3 timnas senior.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Waskito
    Waskito legendaris sepak bola indonesia asli putra ponorogo.
    dan masih banyak tentang kota saya ponorogo yang mungkin sangat panjang bila saya jelaskan.
    dan terima kasih kritikannya sangan membangun.
    dan selamat atas prestasinya sebagai pe-Ngeblog terbaik 2008.
    Salam Damai buat warga ngawi, saya ditak pernah benci ngawi karena ngawi adalah kota kenangan terindah saya. dan anda adalah saudara yg sangat peduli dengan kota saya ponorogo terima kasih bnyak kritikannya.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

jika tidak memiliki id apapun silahkan pilih anonymous